Benarkah Sering Lembur Kerja Tingkatkan Kematian Dini? Ini Penjelasan WHO 

Devi Ari Rahmadhani
Sering lembur kerja tingkatkan kematian dini. (Foto: istimewa)

"Pandemi COVID-19 telah secara signifikan mengubah cara banyak orang bekerja. Teleworking telah menjadi norma di banyak industri, cara ini sering mengaburkan batas antara rumah dan tempat kerja. Selain itu, banyak bisnis telah dipaksa untuk mengurangi atau menutup operasi untuk menghemat uang, dan orang-orang yang masih dalam daftar gaji akhirnya bekerja lebih lama,” kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. 

Ditambahkan Dr Maria Neira, Direktur, Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan, di Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan lembur atau bekerja selama 55 jam per minggu menimbulkan bahaya kesehatan yang serius. 

“Sudah saatnya kita semua, pemerintah, pengusaha, dan karyawan bangun dengan fakta bahwa jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kematian dini,” kata Maria Neira. 

Editor : Elvira Anna
Artikel Terkait
Nasional
4 hari lalu

BPOM Raih Status WHO Listed Authority, Kini Sejajar dengan Regulator AS dan Inggris

Internasional
1 bulan lalu

WHO Berduka atas Banjir Sumatera, Siap Beri Bantuan!

Health
3 bulan lalu

WHO Dukung Indonesia Bikin Obat Herbal Naik Level, Ini Buktinya!

Nasional
4 bulan lalu

Eks Direktur WHO Soroti Kasus Cacingan di Bengkulu, Salahkan Pemerintah?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal