Selain itu, brokoli, kubis, dan kembang kol juga tinggi serat. Kandungan serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan serta membantu mempercepat waktu transit makanan melalui usus, sehingga limbah tidak terlalu lama berada di saluran cerna.
Konsumsi Rutin Berkorelasi dengan Risiko Lebih Rendah
Para peneliti menemukan bahwa tingkat konsumsi sayuran cruciferous yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah. Korelasi ini bahkan disebut lebih kuat dibandingkan hanya mengonsumsi sayuran hijau secara umum tanpa spesifikasi jenisnya.
Artinya, tidak semua sayuran memiliki efek yang sama dalam konteks perlindungan terhadap kanker usus besar. Cruciferous vegetables dinilai memiliki keunggulan tersendiri berkat kombinasi kandungan antioksidan, fitonutrien, dan serat yang tinggi.
Untuk mendapatkan manfaat optimal, sayuran jenis ini bisa diolah menjadi berbagai menu harian. Misalnya, menambahkan brokoli atau kembang kol ke dalam tumisan, sup, maupun salad.
Kale juga bisa diolah menjadi kale chips sebagai camilan sehat pengganti keripik. Sementara kubis atau pokchoy dapat dicampurkan ke dalam menu sayur untuk nasi atau pasta, serta direbus atau dikukus ringan agar nutrisinya tetap terjaga dan lebih mudah diserap tubuh.
Variasi penyajian tersebut membuat menu harian tetap menarik tanpa terasa membosankan. Selain berpotensi menurunkan risiko kanker kolorektal, sayuran cruciferous juga diketahui dapat membantu menekan peradangan, menjaga berat badan tetap sehat, dan mendukung metabolisme tubuh secara keseluruhan.