Yang perlu diwaspadai, ancaman DBD tidak selalu terlihat. Sebuah studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45 persen anggota keluarga pasien DBD juga ikut terinfeksi virus dengue. Menariknya, hampir tiga perempat infeksi tersebut tidak menunjukkan gejala.
"Temuan ini mengingatkan kita bahwa risiko DBD dapat berada sangat dekat dengan keluarga tanpa disadari. Karena itu, pencegahan tidak boleh menunggu sampai ada yang sakit," katanya.
Selain menjaga lingkungan tetap bersih, masyarakat dianjurkan menerapkan 3M Plus secara rutin untuk mengurangi populasi nyamuk.
Orang tua juga perlu mengenali gejala awal DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga muncul ruam di kulit.
Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan, gusi berdarah, tubuh sangat lemas, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda dengue berat.
Dokter Ikhsan menambahkan bahwa pencegahan dapat diperkuat melalui vaksinasi dengue sesuai rekomendasi dokter bagi individu yang memenuhi syarat.
"Perlindungan dari DBD perlu dilakukan secara menyeluruh. Orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan yang sesuai bagi anak maupun anggota keluarga lainnya," ujarnya.