Lingkungan yang lembap dan kotor membuat tubuh kecoak berpotensi membawa berbagai mikroorganisme. Ketika tubuhnya hancur akibat diinjak, cairan dan isi tubuhnya dapat tercecer ke permukaan di sekitarnya.
"Tapi, waktu tubuhnya kegeprek, isi perutnya ikut tercecer dan sebagian membawa bakteri yang nggak kelihatan oleh mata kita. Kecoa berisiko bukan karena tubuhnya beracun, tapi karena dia hidup di selokan, sampah, dan sisa makanan. Tubuhnya jadi kendaraan buat bakteri seperti E. coli dan Salmonella," ujarnya.
Dia menambahkan, menyapu bangkai kecoak yang sudah hancur belum tentu menghilangkan seluruh residu yang tertinggal. Mikroorganisme yang tidak terlihat mata dapat tetap berada di permukaan lantai atau berpindah ke alas kaki.
"Waktu kamu injak sampai pecah, bakterinya nempel di lantai dan sandal. Disapu doang? Bangkainya bisa hilang, tapi residunya belum tentu terangkat. Kalau pindah ke tangan, lalu ke makanan, bisa memicu diare sampai muntah. Bukan berarti sekali injak langsung sakit, tapi peluang kontaminasinya jadi naik. Bahkan serpihan tubuh kotorannya bisa memicu alergi buat orang yang sensitif," katanya.
Sebab itu, masyarakat disarankan lebih memperhatikan cara membersihkan area setelah tidak sengaja menginjak kecoak hingga tubuhnya pecah. Pembersihan sebaiknya tidak berhenti dengan menyapu bangkai dan serpihannya.
"Makanya, kalau terlanjur menginjak kecoa, jangan cuma disapu. Ambil pakai tisu, buang ke tempat tertutup, lalu lap bekasnya pakai sabun, habis itu cuci tangan. Jadi, yang perlu dikhawatirkan bukan kecoa yang udah gepeng, tapi jejak yang ditinggalkan seperti kenangan di masa lalu," ucapnya.