“Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi ‘siap siaga’ terus-menerus, mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur,” katanya.
Dokter Adam juga menyebut kondisi itu dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental anak. Anak dapat mengalami risiko gangguan kecemasan, kesulitan mengatur emosi, hingga masalah psikologis lainnya.
Namun dia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah akan mengalami kerusakan otak permanen. Sebab otak disebut sangat plastis, bisa pulih dengan lingkungan aman dan stabil.
“Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan tepat,” tulisnya.
Untuk itu, dia menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman dan suportif demi perkembangan mental dan emosional anak di masa depan.