Sementara itu, Ketua Pertasindo Dian Andriani Ratna Dewi menilai penguatan ketahanan kesehatan tidak cukup hanya dengan menambah fasilitas pelayanan atau menerapkan teknologi baru. Diperlukan ekosistem kesehatan yang mampu mengintegrasikan kualitas sumber daya manusia, pembiayaan berkelanjutan, ketersediaan material, pemanfaatan mesin dan teknologi, serta metode kerja yang sistematis.
Menurutnya, kelima elemen tersebut saling berkaitan sehingga penguatan satu aspek perlu diikuti dengan perbaikan aspek lainnya. Ketidakseimbangan dalam pemenuhan elemen tersebut berpotensi menghambat upaya membangun sistem ketahanan kesehatan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kelima elemen ini berkaitan satu sama lain, apabila mengabaikan salah satu elemen maka akan menggagalkan upaya mewujudkan sistem ketahanan kesehatan nasional yang memadai bagi masyarakat luas. Seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama dan satu tujuan mensinkronisasikan kelima elemen tersebut demi mendukung keberlanjutan masa depan negara,” kata Dian.
Penguatan ketahanan kesehatan juga mencakup peningkatan kemampuan mendeteksi penyakit sejak dini, memperkuat sistem pemantauan wabah, menjamin ketersediaan obat dan alat kesehatan, serta meningkatkan kesiapan tenaga medis dalam menghadapi situasi darurat.
Di sisi lain, kemandirian industri kesehatan dalam negeri menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama ketika rantai pasok global terganggu akibat krisis. Ketersediaan kebutuhan medis yang memadai dapat mendukung keberlangsungan pelayanan kesehatan saat terjadi peningkatan kebutuhan secara mendadak.
Pembangunan sistem ketahanan kesehatan membutuhkan koordinasi lintas sektor dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan menghadapi krisis, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.