Alzheimer sendiri merupakan gangguan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku pada penderita akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya progresif.
"Empat puluh persen kasus Alzheimer mungkin disebabkan karena insulin mengalami peningkatan kronis yang sebagian besar berasal dari makanan kita. Apalagi, sekarang makanan kita didominasi oleh makanan olahan," kata Lugavere, dikutip dari Well and Good.
Ia menambahkan, bahwa kita mungkin saja sedang mengisi tubuh kita dengan gula, tanpa menyadarinya.
"Gula tersembunyi dan ada di mana-mana," imbuh Lugavere.
Sementara menurut Mayo Clinic, penyakit Alzheimer disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, gaya hidup dan lingkungan yang mempengaruhi otak seiring berjalannya waktu. Meski penyebab Alzheimer belum sepenuhnya dipahami, pengaruhnya terhadap otak sudah jelas, yakni merusak dan membunuh sel otak.
Ada pun faktor risiko Alzheimer di antaranya usia, riwayat keluarga, down syndrome, gender, trauma, dan gaya hidup. Untuk poin terakhir, Mayo Clinic memaparkan jika kurang olahraga, kegemukan, merokok atau terpapar asap rokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, dan kurang buah serta sayur dapat meningkatkan risiko Alzheimer.