Menurut dr Adam, masalah yang lebih sering muncul justru reaksi pada kulit akibat paparan langsung bahan-bahan dalam parfum. Kondisi ini dapat memicu dermatitis dengan gejala berupa gatal, kemerahan, sensasi terbakar, kulit kering, hingga iritasi pada area yang terkena semprotan parfum.
"Nah tapi yang perlu diperhatikan adalah sifatnya itu zatnya terakumulasi di tubuh, dapat melalui jalur mana saja, TIDAK KHUSUS karena disemprotkan di leher," katanya.
Sebab itu, masyarakat disarankan memperhatikan reaksi kulit setelah menggunakan parfum. Jika muncul tanda-tanda iritasi, penggunaan parfum pada area kulit sensitif sebaiknya dihentikan dan diganti dengan cara penyemprotan pada pakaian atau area yang tidak menimbulkan reaksi.
dr Adam kembali menegaskan hingga saat ini bukti ilmiah mengenai hubungan langsung antara penyemprotan parfum di leher dengan kanker maupun gangguan tiroid masih belum kuat. Sebaliknya, risiko yang lebih nyata dan telah dikenal adalah dermatitis atau peradangan kulit.
"Bukti ilmiah menyemprotkan parfum langsung di leher terhadap terjadinya penyakit tiroid dan kanker masih belum kuat. Risiko yang dapat muncul akibat menyemprotkan parfum di leher adalah dermatitis," katanya.