Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah nyeri atau pegal yang terus berlangsung meskipun seseorang tidak sedang melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini bisa membuat lansia kesulitan tidur atau merasa tidak nyaman meski sudah berbaring.
"Ketika seorang lansia mulai merasa pegal-pegal, baik pegalnya itu nggak terlalu mengganggu atau pegalnya itu juga bahkan tanpa gerak pun ada pegal, ada nyeri. Artinya dia berbaring atau dia tidur, susah tidur, kok rasanya pegalnya enggak hilang-hilang. Nah, itu mesti waspada," katanya.
Dokter Dohar menjelaskan, salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah patah ruas tulang belakang akibat osteoporosis. Pada orang dengan kepadatan tulang yang sudah berkurang, kerusakan atau patah tulang bisa terjadi secara perlahan sehingga tidak selalu disadari sejak awal.
Bahkan, sebagian lansia baru memeriksakan diri ketika kondisi tulang belakang sudah mengalami perubahan cukup parah. Ruas tulang belakang yang semula memiliki struktur normal bisa mengalami penekanan hingga menjadi pipih atau remuk.
"Misalnya ada patah ruas tulang belakangnya karena pada orang-orang tua di mana tulangnya sudah mulai keropos, itu patah terjadi pelan-pelan. Pelan-pelan, nyeri-nyeri nanti begitu memeriksakan diri, ruas tulang belakangnya sudah flat, sudah remuk lumayan ekstrem," tuturnya.