Menurutnya, cedera dapat terjadi pada otot, sendi, ligamen, tulang, maupun tulang belakang. Karena itu, pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk menentukan terapi yang tepat.
"Cedera olahraga memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian dapat ditangani secara konservatif melalui obat-obatan, fisioterapi, dan rehabilitasi. Namun, pada kondisi tertentu, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki struktur yang mengalami kerusakan dan mengembalikan fungsi gerak pasien," kata dr. Herryanto.
Ia menambahkan, masyarakat sebaiknya tidak memaksakan diri tetap berolahraga ketika mengalami nyeri atau gangguan pada persendian. Penanganan yang terlambat justru dapat memperparah cedera dan membuat proses pemulihan menjadi lebih lama.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap padel menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bahwa olahraga tidak hanya soal teknik dan strategi bermain. Persiapan fisik, latihan yang terukur, pencegahan cedera, hingga proses pemulihan merupakan bagian penting agar aktivitas olahraga dapat dilakukan secara aman dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan olahraga padel di Indonesia, Bethsaida Hospital Gading Serpong dan Seraphim Medical Center dipercaya menjadi Official Medical Partner FIP Bronze Banten 2026, turnamen padel internasional pertama yang digelar di Banten.
Kompetisi yang berlangsung pada 14–19 Juli 2026 tersebut merupakan bagian dari kalender pertandingan di bawah naungan International Padel Federation (FIP).
Melalui kolaborasi tersebut, tim medis disiagakan untuk memberikan layanan kesehatan selama pertandingan berlangsung, mulai dari asesmen awal terhadap cedera, penanganan medis, hingga dukungan rehabilitasi dan pemulihan bagi atlet apabila diperlukan.