Kondisi ini, kata Diana, perlu diperhatikan karena dapat mengganggu produktivitas. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi perasaan ini salah satunya dengan mengubah pemikiran terjebak terkait kondisi saat ini.
“Perspektif seseorang terkait kondisi yang menimpa akan memengaruhi bagaimana sikap yang akan diberikan dalam kondisi tersebut,” ucapnya.
Karena itu dia merekomendasikan untuk membuat rutinitas selama berada di dalam situasi isolasi atau karantina. Sebagai contoh, melakukan aktivitas yang dahulu ingin dilakukan jika memiliki waktu luang, dan membuat pembagian antara pekerjaan atau kewajiban dengan aktivitas lain sebagai sarana hiburan.
Seseorang yang menjalani isolasi juga dapat berhubungan dengan alam dengan membuka jendela, berjemur, atau menyiram tanaman, dan tetap membangun koneksi dengan orang lain dengan memanfaatkan teknologi juga menjadi cara yang baik untuk menghadapi cabin fever.
“Ingat bahwa yang dilakukan saat ini physical distancing, bukan social distancing,” kata Diana.
Orang yang mengalami cabin fever juga bisa mencoba melakukan sesuatu yang baru dan menarik, melakukan aktivitas yang dapat mengaktifkan kerja otak, dan beraktivitas yang menggerakkan fisik seperti olahraga. Terpenting, menguatkan keyakinan setiap masa akan berganti
“Hal ini dapat membantu mengatasi perasaan-perasaan negatif yang dapat muncul selama menghabiskan waktu di rumah di tengah pandemi,” kata dia.