Menkes menyatakan bahwa Biofarma sudah lebih dari satu abad berkiprah dalam pengembangan vaksin untuk pencegahan penyakit. Apalagi kualitas dan keamanan produknya telah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dipergunakan tidak hanya di Indonesia, namun diekspor ke 130 negara, termasuk ke 57 negara islam, salah satunya Saudi Arabia.
"Apa yang kita sama-sama sudah lihat, jelas sekali membuat vaksin itu sangat tidak sembarangan", ujar Menkes.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Dirut Biofarma Juliman yang menyatakan bahwa semua vaksin yang diproduksi Bio Farma untuk program ORI, program imunisasi nasional dan ekspor, sangat terjamin kualitas, keamanan, dan khasiatnya.
"Seluruh vaksin yang diproduksi Bio Farma, telah melewati seragkaian pengujian yang ketat, untuk mendapatkan release (ijin edar) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM). Bahkan untuk dapat mengekspor vaksin, produk Bio Farma harus diaudit oleh WHO," katanya.
Ia menambahkan, Biofarma terus berkomitmen akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, sehingga permintaan ekspor dapat dinegosiasi ulang setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Pengalihan pasokan ekspor hanya diperuntukkan bagi vaksin yang mengandung difteri saja.