"Nah, hati-hati ya, karena ada beberapa kondisi kelainan kejiwaan, atau stres, atau pikiran, yang akhirnya ini bisa membuat kita menjadi bias dalam menilai panjang penis," katanya.
Selain faktor psikologis, dr. Jefry menjelaskan adanya bias visual yang juga sering membuat pria merasa ukuran penisnya lebih kecil. Hal ini dipengaruhi oleh sudut pandang saat melihat tubuh sendiri dibandingkan saat melihat tubuh orang lain.
"Terlebih kalau kita ngelihat panjang penis orang lain kan kita ngelihatnya dari sudut pandang depan, ya. Saat kita melihat penis kita sendiri, kita kan ngelihatnya dari atas. Biasanya kalau dari atas ini kita ngelihatnya lebih kecil, apalagi kalau banyak bulu-bulu yang lebat. Nah, itu penisnya kadang kelihatannya lebih kecil, padahal sebetulnya normal," ujarnya.
Karena itu, dia menyarankan pria melakukan pengukuran penis dengan cara yang benar agar memperoleh hasil yang objektif. Jika hasilnya berada dalam rentang normal, tidak perlu merasa minder atau cemas berlebihan.
"Makanya sangat penting kita harus ngukur. Kalau memang ngukurnya udah tepat dan panjangnya aman, udah kita enggak perlu minder. Karena tadi prinsipnya itu sudah sangat cukup untuk memuaskan," katanya.
Dr Jefry juga mengingatkan bahwa apabila rasa cemas terhadap ukuran penis berlangsung terus-menerus hingga mengganggu kepercayaan diri atau kualitas hidup, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau tenaga kesehatan agar mendapatkan penilaian dan penanganan yang tepat.