Selain persoalan penularan, vaksin HPV juga kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa vaksinasi dapat mendorong perilaku seks bebas atau kebiasaan berganti-ganti pasangan.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropis, Prof Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A, Subsp. I.P.T., M.Trop.Paed, menegaskan anggapan tersebut tidak tepat.
"Jadi sebetulnya itu kurang tepat," ujar Prof Hinky.
Dia menegaskan, tidak ada data yang menunjukkan bahwa vaksinasi HPV menyebabkan peningkatan perilaku seks bebas atau membuat seseorang cenderung berganti-ganti pasangan.
Menurut Prof Hinky, narasi tersebut justru berpotensi menghambat upaya vaksinasi. Dia menilai anggapan yang tidak didukung data tersebut menjadi salah satu narasi yang digunakan kelompok antivaksin untuk menentang program vaksinasi.
Padahal, vaksin HPV bertujuan membantu mencegah infeksi tipe virus tertentu yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk kanker serviks.
HPV merupakan kelompok virus yang terdiri atas banyak tipe. Sebagian tipe dapat menyebabkan kutil kelamin, sedangkan tipe berisiko tinggi dapat memicu perubahan sel yang berkembang menjadi kanker, termasuk kanker serviks.