Menurutnya, retina merupakan jaringan di bagian belakang bola mata yang berfungsi menangkap cahaya dan mengirimkan sinyal ke otak agar seseorang dapat melihat. Organ ini memiliki kebutuhan metabolisme yang sangat tinggi sehingga dipenuhi pembuluh darah berukuran sangat kecil.
Pada penyandang diabetes, kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah halus tersebut. Kerusakan ini menyebabkan kebocoran, perdarahan, hingga terbentuknya endapan protein, lemak, dan sisa metabolisme yang mengganggu fungsi retina.
"Ketika pasien diabetes menderita retinopati diabetik, banyak muncul kerusakan pada pembuluh darah. Akhirnya bocor, pecah, kemudian muncul merah-merah di retina. Itu darah yang keluar dari pembuluh darah yang rusak," jelasnya.
Selain menyebabkan perdarahan, kondisi tersebut juga memicu pembengkakan retina yang dapat membuat penglihatan menjadi kabur. Jika terus berkembang tanpa penanganan, kerusakan retina bisa berujung pada gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan.
Prof Bayu menambahkan, risiko retinopati diabetik meningkat seiring lamanya seseorang menderita diabetes. Faktor lain seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok juga dapat mempercepat kerusakan retina.