Maullidi menegaskan kesempatan berkarya tidak hanya diberikan kepada Zul Zivilia. Menurutnya, banyak warga binaan lain yang juga memiliki potensi serupa, seperti grup hip hop dari lapas di Papua hingga Antrabez Band dari Lapas Kerobokan, Bali.
Lagu Sabar-Sabar Ade sendiri mengangkat kisah sepasang kekasih yang ingin segera melangkah ke jenjang pernikahan, namun harus menunda harapan tersebut karena keadaan.
Proses perekaman lagu dilakukan di studio musik milik Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur dengan metode hybrid recording. Kolaborasi antarlapas tersebut tetap dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keamanan yang ketat.
Kepala Lapas Khusus Gunung Sindur, Wahyu Indarto, memastikan seluruh tahapan produksi karya dilakukan sesuai prosedur pengamanan yang berlaku.
“Proses pembuatan karya Zul Zivilia dan Putri Ajeng dilakukan melalui prosedur pengamanan yang ketat dengan memanfaatkan studio musik milik Lapas Khusus Gunung Sindur,” ujar Wahyu.
Pembuatan lagu ini berlangsung sejak November 2025 hingga Januari 2026 dan menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bagi warga binaan.