Bacaan Ketiga:
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
Latin: Subbuuhun qudduusun robbul malaa-ikati war ruuh.
Artinya: Maha Suci, Maha Qudus (Maha Mulia), Rabb-nya Para Malaikat dan Ruh.
Bacaan Keempat:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Latin: Subhaanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfirlii.
Artinya: Maha Suci Engkau Ya Allah, Wahai Rabb kami, dan dengan memuji-Mu, Ya Allah, berilah ampunan untukku.
Rais Syuriah PBNU, KH Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) mengungkapkan, keutamaan sujud menjadi bukti seorang Muslim kelak di hari Kiamat saat dikumpulkan di Padang Mahsyar.
"Andaikan tanpa hidayah Rasulullah umat Islam tidak akan menikmati rukuk dan sujud. Ulama-ulama dulu sampai menggambarkan sujud dengan redaksi tarannum (bernyanyi) karena sangkin nikmatnya sujud," katanya dalam ngaji tasawuf Gus Baha.
Menurut Gus Baha, dalam sebuah riwayat, Nabi SAW risau ketika Bilal tidak kunjung datang untuk mengumandangkan azan sebagai pertanda masuknya waktu shalat. "Ketika Bilal datang untuk azan, Nabi sangat senang," kata Gus Baha.
Gus Baha menjelaskan, ketika manusia mati yang akan dikenang di dunia itu hanya sujud karena itu perintah Allah. "Kalau kita mati yang paling kita kenang itu pernah sujud. Itu pasti. Dan itu identitas kita," katanya.