"Iya, sangat. Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku. Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah," tegasnya.
Siapa sangka, peluncuran buku Broken Strings ini mendapat atensi positif dari masyarakat. Banyak yang memberi dukungan kepadanya untuk menyuarakan keadilan sebagai korban kekerasan seksual.
"Jujur aku tidak menyangka. Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas. Tapi ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses," kata Aurelie.
"Yang paling menyentuh buat aku adalah ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu. Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan," tambahnya.