“Saya sendiri tidak membenarkan perilaku orang tuanya. Sampai mikir, ‘Ternyata gak semua orang yang bisa bikin anak, pantas merawat anak,’” lanjutnya.
Fiersa juga menyoroti video permintaan maaf yang dibuat ayah balita setelah peristiwa tersebut viral. Dia mempertanyakan alasan permintaan maaf itu justru ditujukan kepada masyarakat, bukan kepada anak yang ditinggalkan.
“Ketika sang ayah bikin video permintaan maaf pun saya bingung. Kenapa minta maaf sama orang-orang? Minta maaf tuh sama anaknya. Trauma lho itu,” tulisnya.
Kronologi Balita Ditinggal di Tenda Gunung Prau
Kasus ini bermula dari beredarnya video balita yang menangis sendirian di dalam tenda di kawasan Gunung Prau. Anak tersebut dilaporkan ditinggalkan sekitar satu jam ketika kedua orang tuanya melanjutkan perjalanan menuju puncak atau melakukan summit.
Rombongan pendaki lain yang mengetahui kondisi balita tersebut kemudian memberikan pertolongan. Peristiwa ini memicu kecaman warganet karena dinilai membahayakan keselamatan anak.