"Lebih kepada penggambaran bahwa untuk mendapatkan cinta sejati diperlukan pengorbanan. Cerita itu kami angkat karena memiliki kedekatan dengan perjalanan kedua mempelai," ujar Retno Wulan dalam keterangan resmi yang diterima iNews.id, Minggu (8/11/2026).
Pemilihan lakon tersebut terasa semakin menarik jika melihat perjalanan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas. Keduanya pertama kali bertemu pada 2015, tetapi sempat terpisah selama bertahun-tahun karena menjalani kehidupan masing-masing.
Tak disangka, keduanya kembali dipertemukan pada awal 2025 hingga akhirnya memutuskan untuk membangun rumah tangga bersama. Kisah pertemuan kembali setelah sekian lama itu memberikan makna tersendiri bagi pementasan Langendriyan dalam resepsi pernikahan mereka.
Langendriyan sendiri merupakan drama tari khas Mangkunegaran yang memadukan gerak tari, tembang, dan gending. Keunikannya terletak pada dialog antartokoh yang disampaikan melalui tembang, bukan percakapan biasa.
Cerita kemudian dibangun melalui perpaduan lantunan suara, irama gamelan, gerakan tubuh, dan ekspresi para penari. Seni pertunjukan ini menjadi salah satu warisan budaya Mangkunegaran yang terus dijaga keberlangsungannya.