Retno Wulan mengungkapkan, Langendriyan merupakan salah satu kesenian yang secara khusus diminta Gusti Sura untuk ditampilkan dalam rangkaian pahargyan. Pilihan tersebut sekaligus memperlihatkan keinginan menghadirkan seni tradisi sebagai bagian penting dari perayaan pernikahan.
Selain Langendriyan, Tari Gambyong Pareanom turut memeriahkan malam bahagia kedua mempelai. Tarian ini memiliki cerita sejarah yang tidak kalah istimewa karena berkaitan dengan tradisi pernikahan Mangkunegaran sejak puluhan tahun silam.
Gambyong Pareanom dibakukan oleh Nyi Bei Mintoraras pada 1950. Setahun kemudian, tarian tersebut pertama kali dipentaskan dalam pernikahan Gusti Nurul pada 1951.
Setelah 75 tahun berlalu, Gambyong Pareanom kembali hadir dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran. Kehadirannya menjadi penghubung antara perayaan pernikahan generasi sekarang dengan jejak tradisi yang telah diwariskan sejak masa sebelumnya.
Nama Pareanom merujuk pada warna hijau muda kekuningan yang menjadi bagian dari identitas Mangkunegaran.