Menurut Zainal, kondisi kesehatan Diding mulai menurun pada malam sebelum wafat akibat gangguan pernapasan. Menyadari kondisi sang kakak semakin melemah, keluarga pun berkumpul dan membacakan doa serta ayat-ayat suci Al-Qur’an.
“Semalam saya masih di sini sudah terganggu pernapasannya. Saya datang, saya ngaji apa semua, terus datanglah keluarga, anak-anaknya. Anak-anak kumpul, saya tinggal pulang,” tuturnya.
Kepergian Diding Boneng menjadi pukulan berat bagi keluarga. Meski demikian, mereka mengaku telah berusaha mengikhlaskan kepergian sang komedian senior.
Beberapa hari sebelum meninggal dunia, Diding diketahui sempat menjalani perawatan selama 10 hari di Rumah Sakit Tarakan akibat stroke dan hipertensi. Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang ke rumah dan bahkan sudah kembali bisa berjalan.
“Sepulangnya dari rumah sakit itu tenang saja dia, tenang. Alhamdulillah saya lihat juga sudah sehat, sudah baguslah, bisa jalan,” kata Zainal.
Kini, keluarga bersiap mengantarkan Diding Boneng ke peristirahatan terakhirnya di TPU Menteng Pulo.
Prosesi pemakaman dihadiri keluarga besar, kerabat, serta sejumlah sahabat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada komedian yang telah berkarya selama puluhan tahun di industri hiburan Indonesia.