Siska Permata Sari

JAKARTA, iNews.id - Indonesia patut berbangga. Sebab, industri fashion-nya, terutama busana Muslim, kini mulai dilirik oleh dunia. Hal ini terbukti dari banyaknya desainer Indonesia yang melanglang buana dari panggung ke panggung fashion week dunia seperti Torino Modest Fashion Week hingga New York Fashion Week.

Pada September ini, Indonesia kembali mengirim enam desainer modest fashion ke ajang Contemporary Muslim Fashions Exhibition yang berlangsung dari 22 September hingga Januari 2019 di De Young Museum, Fine Art Museum of San Fransisco. Ini adalah pameran mode Muslim pertama yang mengeksplorasi gaya berpakaian wanita Muslim dari seluruh dunia.

Dikurasikan oleh Jill D'Alessandro, Laura Camerlengo dan Reina Lewis selaku Profesor Studi Budaya di London College of Fashion, pameran ini akhirnya memilih enam desainer Indonesia untuk turut terlibat merepresentasikan mode wanita Muslim Indonesia. Mereka di antaranya Dian Pelangi, Itang Yunasz, Khanaan Shamlan, Rani Hatta, Nur Zahra, dan IKYK.

(Koleksi Itang Yunasz/Fine Arts Museum of SF)

"Alhamdulillah, kalau bisa saya bilang, ini adalah pencapaian desainer Indonesia bisa tampil di San Fransisco. Ini juga sebuah pameran busana Muslim terbesar di dunia," kata Dian Pelangi saat jumpa pers di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (17/9/2018).

Dia mengisahkan, keterlibatannya ini memakan proses yang panjang. Sebelum akhirnya tiga koleksinya terbang ke San Fransisco, ada proses selama dua tahun untuk mengikuti ajang Contemporary Muslim Fashions Exhibition. 

"Kalau proses kurasinya itu dua tahun. Saya sudah dihubungi dari 2016. Jadi, selama dua tahun proses kurasinya sudah cukup panjang," ucapnya.

Tiga koleksi, kata Dian, yang dibawa ke ajang tersebut didominasi oleh kain-kain songket Palembang yang sudah disulap menjadi busana Muslim modern yang kontemporer. Di antaranya ada yang sudah tampil di ajang Torino Modest Fashion Week dan New York Fashion Week 2017.

(Koleksi Dian Pelangi/Fine Arts Museum of SF)

Sementara itu, desainer sekaligus pelopor Muslim fashion Itang Yunasz juga membawa tiga koleksi bertema Tribalux Sumba. Tema ini merupakan dedikasinya pada kecintaan pada pesona tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur. 

"Walaupun kita mempunyai satu gambaran, yaitu Sumba yang penuh etnik, tetapi ada sentuhan internasional dalam koleksi ini," kata Itang di kesempatan yang sama.

Sama halnya dengan Khanaan Shamlan yang dalam ajang kali ini membawa ciri khas Indonesia di Contemporary Muslim Fashions Exhibition, San Fransisco. Jika Dian Pelangi membawa songket, Itang Yunasz mengangkat Sumba, Khanaan membawa dua koleksi dalam sentuhan batik yang motifnya modern.

(Koleksi Khanaan/Fine Arts Museum of SF)

"Kalau aku batiknya kontemporer, lalu inspirasi motifnya aku ambil dari corak tradisional dan luar negeri, seperti arsitektur bangunan Islam," kata Khanaan.


Editor : Tuty Ocktaviany

BERITA TERKAIT