Devi Dja (kanan) dikenal sebagai seniwati Indonesia yang memulai karier dari pengamen. (Foto: Instagram)
Siska Permata Sari

JAKARTA, iNews.id - Nama Devi Dja telah menjadi legenda di industri hiburan dan kesenian Tanah Air. Kiprahnya sebagai seorang seniwati yang memperkenalkan Indonesia ke mata dunia terbilang sangat panjang dan berliku.

Nama kecilnya adalah Misri, sebelum dia mengganti namanya menjadi Sutidjah. Dia lahir di Besuki, Situbondo, pada 1 Agustus 1914. Melansir dari situs resmi Jakarta, Senin (20/9/2021), masa kecil Sutidjah dihabiskan di lingkungan masyarakat miskin pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Saat itu, dia kerap ikut kakeknya, Pak Satiran dan neneknya, Bu Sriatun, untuk berkeliling mengamen dan memetik siter.

Kiprahnya di panggung kesenian baru bermula ketika dia beranjak remaja. Saat itu, dia bertemu dengan Willy Klimanov alias Piedra yang tertarik dengan Sutidjah, dan mengajaknya bermain di rombongannya yang kemudian dikenal dengan Dardanella. 

Tak hanya ikut rombongan teater, Sutidjah juga akhirnya menjadi istri Piedra. Saat di Dardanella dia memulai kariernya dengan belajar memainkan peran-peran kecil. Di sana, dia juga mulai belajar membaca dan menulis latin. Tak membutuhkan waktu lama, dua tahun tergabung di Dardanella, nama Sutidjah sudah mulai bersinar.

Pada usia 17 tahun, Sutidjah dan rombongan Dardanella pertama kali pentas di luar negeri. Dardanella adalah rombongan teater Indonesia pertama yang menyeberang ke luar negeri. Mulai dari Singapura, China, dan India. Rombongan teater ini juga tampil di Turki, Paris, Maroko, Jerman, hingga New York.

Di New York rombongan teater ini berganti nama menjadi Devi Dja's Bali and Java Cultural Dancers. Namun, di kota itu pula terjadi konflik antara Sutidjah dan Dardanella sehingga membuatnya hengkang dari rombongan teater yang membesarkan namanya itu.

Setelah hengkang dari Dardanella, dia lalu menetap di Amerika Serikat. Di sanalah, dia sering mengadakan pertunjukan-pertunjukan seni Indonesia. Dia bahkan dikenalkan sebagai duta kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Amerika oleh Sutan Syahrir, sehingga membuat namanya semakin bersinar. 

Selain menggelar pertunjukan seni Indonesia, perempuan yang dikenal dengan nama Devi Dja ini juga mengajarkan tarian-tarian daerah kepada penari-penari Amerika. Kiprahnya ini membuat dia mempunyai banyak teman pesohor Hollywood. Di antaranya saja Greta Garbo, Carry Cooper, Bob Hope, Dorothy Lamour, dan Bing Crosby.

Selama berkesenian di Amerika, Devi Dja pernah tampil di acara televisi lokal Los Angeles dan sempat bermain dalam beberapa film Hollywood. Di antaranya The Moon And Sixpence, yang menceritakan riwayat hidup seorang pelukis Prancis Paul Gaugin. 

Devi Dja juga membintangi atau menjadi koreografer film Road to Singapore (1940), Road to Morocco (1942), The Picture of Dorian Gray (1945), di mana dia berperan sebagai Penari Bali, Three Came Home (1950), dan Road to Bali (1952). 

Sepak terjangnya di film-film tersebut, membuat Devi Dja menjadi artis pertama Indonesia yang menembus Hollywood. Tak hanya itu, dia juga mengharumkan nama Indonesia, memperkenalkan Indonesia, dan berjuang untuk Indonesia lewat kesenian.

Devi Dja kemudian meninggal dunia di Los Angeles pada tanggal 19 Januari 1989. Jenazahnya lalu dimakamkan di Hollywood Hills, Los Angeles. Dia meninggalkan satu orang putri, yakni Ratna Assan, anak dari pernikahan ketiganya dengan Ali Assan.

Catatan tentang seorang Devi Dja sempat diabadikan dalam beberapa buku. Di antaranya Standing Ovations: Devi Dja, Woman of Java karya Leona Mayer Merrin (1989), Lumhee Holot-Tee: The Art and Life of Acee Blue Eagle karya Tamara Liegerot Elder, dan Gelombang hidupku: Dewi Dja dari Dardanella (1982) yang ditulis oleh Ramadhan KH. 


Editor : Elvira Anna

BERITA TERKAIT