Pengalaman itu kemudian meninggalkan trauma mendalam bagi dirinya.
Alih-alih langsung menceritakan kejadian tersebut kepada publik, Sashfir memilih memendamnya selama beberapa bulan.
Ia baru berbicara setelah merasa kondisinya lebih stabil.
“Selama beberapa bulan terakhir, aku memendam sesuatu yang mengubah hidupku. Pada bulan April lalu, aku menjadi korban pelecehan seksual berupa perekaman diam-diam (voyeurism) di area toilet perempuan sebuah restoran di Senopati. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa siap untuk bersuara," kata Sashfir, dikutip Kamis (8/10/2026).
Pernyataan itu menjadi awal Sashfir membuka pengalaman yang sebelumnya ia simpan sendiri.
Dalam pengakuannya, Sashfir juga menyampaikan fakta yang menurutnya paling membuat miris.
Ia menyebut pihak yang dituduh melakukan tindakan tersebut merupakan seorang suami sekaligus ayah dari seorang anak perempuan.