Manohara menilai penggunaan bahasa yang keliru dalam kasus kekerasan seksual dapat membentuk cara pandang masyarakat yang salah, seolah paksaan adalah persetujuan dan korban dianggap sebagai pihak yang turut berperan. Menurut dia, pola pikir seperti ini berbahaya dan berdampak luas.
Dia menegaskan, dengan bercerita masalah ini ke publik bukan untuk meminta rasa iba, melainkan keakuratan dalam menyampaikan fakta. Bagi Manohara, keakuratan berarti menyebut peristiwa tersebut sebagai situasi paksa yang melibatkan anak, bukan hubungan sukarela antara orang dewasa.
"Bahasa itu penting, karena cara kita menyebut sesuatu menentukan bagaimana korban dilihat," tegas Manohara.