Selanjutnya, dr Tirta ingin lebih fokus bekerja di dunia nyata. Dia mengaku sebelumnya dapat menghabiskan waktu hingga lima sampai enam jam setiap hari di media sosial sehingga mengurangi produktivitas.
“Yang ketiga, jelas biar fokus untuk bekerja di dunia nyata. Saya merasa bahwa waktu yang saya habiskan di sosial media itu bisa lima sampai enam jam per hari, dan itu waktunya kayak terasa cepat. Dan itu terlihat efektif, kelihatan ketika saya sudah mengurangi waktu di medsos tuh saya jadi lebih fokus dalam bekerja,” katanya.
Alasan terakhir berkaitan dengan keinginannya mengurangi sifat impulsif akibat terlalu sering berinteraksi di media sosial. Menurut dia, respons berupa like dan komentar dapat memicu pelepasan dopamin yang berpotensi menimbulkan kecanduan.
“Dan yang terakhir, itu jelas ya, untuk mengurangi rasa impulsif, gampang reply, karena menurut saya like dan comment itu dopamine booster. Dan itu nyandu, yang menurut saya sangat dangerous. Jadi saya ingin berhenti dan mengurangi hal itu agar tidak dicontoh oleh anak-anak saya ke depannya,” ujarnya.
Meski memilih mengurangi aktivitas di media sosial, dr Tirta menegaskan tidak melarang orang lain untuk tetap aktif menggunakan berbagai platform digital.