Selain itu, pola darah, posisi senjata, hingga penataan barang di sekitar tubuh Cobain dinilai terlalu 'rapi' untuk peristiwa bunuh diri. Beberapa barang bukti, seperti peluru dan dokumen tertentu, disebut berada di lokasi yang menurut para peneliti tampak sengaja diatur.
Tim forensik independen juga mempertanyakan keaslian dan konteks catatan bunuh diri yang ditemukan di lokasi. Mereka menilai gaya tulisan dan isi catatan tersebut tidak sepenuhnya konsisten dengan kondisi mental seseorang yang baru saja mengalami overdosis berat.
Meski demikian, klaim ini bukan kali pertama muncul. Sejak kematian Cobain pada usia 27 tahun, berbagai teori alternatif memang kerap bermunculan, namun selalu dibantah oleh pihak berwenang.
Otoritas Amerika Serikat, termasuk Kantor Pemeriksa Medis King County dan Kepolisian Seattle, hingga kini tetap berpegang pada kesimpulan awal bahwa Kurt Cobain meninggal dunia akibat bunuh diri dengan luka tembak yang dilakukan sendiri. Mereka menyatakan tidak ada bukti baru yang cukup kuat untuk membuka kembali kasus tersebut.
Kurt Cobain ditemukan meninggal di rumahnya di Seattle pada 5 April 1994. Kepergiannya menjadi salah satu tragedi paling ikonik dalam sejarah musik dunia dan meninggalkan luka mendalam bagi penggemar Nirvana hingga hari ini.
Meski status kasusnya tetap tertutup secara hukum, laporan forensik independen terbaru ini kembali menghidupkan diskusi lama, apakah dunia benar-benar telah mengetahui kebenaran di balik kematian sang ikon grunge, atau masih ada potongan cerita yang belum terungkap.