Gusti Sura menjelaskan bahwa konsep tersebut bukan sekadar tema acara. “Mulih” dimaknai sebagai perjalanan kembali ke Solo dan Pura Mangkunegaran, kembali kepada akar kebudayaan, hingga kembali kepada diri sendiri.
Ia juga menegaskan bahwa peringatan 1 Sura bukan sekadar festival atau tontonan. Bagi Mangkunegaran, rangkaian tersebut merupakan ritual adat yang sakral dan harus diikuti dengan tertib serta penuh penghayatan.
Besarnya tanggung jawab tersebut menunjukkan bahwa Gusti Sura memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan budaya yang digelar Pura Mangkunegaran.
Nama Gusti Sura juga sempat menjadi perhatian publik pada Juni 2026 ketika muncul kontroversi mengenai seorang peserta kirab malam 1 Sura yang mengenakan kebaya.
Sebagai ketua panitia, Gusti Sura memberikan klarifikasi bahwa pihak Mangkunegaran tidak pernah memberikan izin khusus, dispensasi, maupun perlakuan khusus kepada peserta tersebut.