"Kirab menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya. Susunan iring-iringan, busana, dan tata lakunya merupakan bagian dari tradisi yang kami jaga agar tetap hidup," ujar Ayu dalam keterangan resmi yang diterima iNews.id, Minggu (8/11/2026).
Dalam prosesi tersebut, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas menaiki kereta Glasslandauer yang ditarik empat ekor kuda. Penampilan keduanya semakin mencuri perhatian dengan balutan busana Kasatriyan yang dikenakan khusus dalam prosesi kirab.
Rombongan pengantin juga diiringi korps musik, panji-panji Mangkunegaran, barisan bregada, serta niyaga yang membawa gamelan. Pasukan berkuda Ladrang Mangungkung dan barisan pangombyong turut menyemarakkan perjalanan.
Kirab dimulai dari gerbang selatan Pura Mangkunegaran. Rombongan kemudian melewati Jalan Ronggowarsito, Jalan Prof. Dr. Supomo, Jalan Slamet Riyadi, kawasan Pasar Pon dan Ngarsopuro, sebelum melintasi Jalan Diponegoro dan kembali ke Pura Mangkunegaran.
Sepanjang perjalanan, masyarakat terlihat antusias menyambut rombongan. Sejumlah warga bahkan sengaja datang dari luar kawasan Mangkunegaran untuk menyaksikan prosesi bersejarah tersebut.