Yuliati, warga Keprabon yang tinggal tidak jauh dari sisi timur Pura Mangkunegaran, mengaku ikut bahagia menyaksikan pernikahan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas.
"Istilah Jawanya, kami mangayubagya. Kami ikut berbahagia atas Dhaup Ageng ini," kata Yuliati.
Hal senada disampaikan Titik, warga Gedangan, Solo Baru. Menurut dia, kirab menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kedua mempelai sekaligus tradisi keluarga Mangkunegaran.
"Dengan kirab seperti ini, masyarakat menjadi tahu dan mengenal," ujarnya.
Kemeriahan Dhaup Ageng juga terasa melalui kegiatan Mangayubagyo yang digelar di Pamedan Pura Mangkunegaran. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan kesempatan untuk hadir, menikmati jamuan dan sajian budaya, serta menyampaikan doa dan pangestu bagi kedua mempelai.
Kirab dan Mangayubagyo menjadi bagian dari perayaan yang mempertemukan kebahagiaan keluarga Mangkunegaran dengan masyarakat luas. Kehadiran warga yang memadati rute kirab pun memperlihatkan antusiasme masyarakat dalam menyambut pasangan pengantin baru tersebut.
Momen kebahagiaan Gusti Sura dan Kanjeng Dimas ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi Dhaup Ageng bukan hanya peristiwa penting bagi keluarga Mangkunegaran, tetapi juga bagian dari kehidupan budaya Kota Solo.