Menurut pengakuannya, gangguan pernapasan itu mulai dirasakan setelah menjalani proses syuting dua film yang berlangsung cukup lama. Selama pengambilan gambar, ia mengaku sering terpapar asap buatan atau smoke gun dalam adegan malam di kawasan hutan.
Diding menduga paparan asap tersebut menjadi awal munculnya gangguan pernapasan yang kemudian berkembang menjadi asma. Namun, ia menegaskan hal itu hanyalah dugaan pribadinya dan tidak pernah menyebut adanya diagnosis dokter yang mengaitkan langsung penyakitnya dengan proses syuting.
Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan Diding semakin membatasi aktivitasnya. Ia mengaku mudah sesak napas, tidak diperbolehkan terlalu lelah maupun mengalami stres karena dapat memicu kekambuhan asmanya.
Akibat kondisi tersebut, Diding memilih tidak mengambil pekerjaan syuting selama kurang lebih tiga tahun. Padahal, bermain film merupakan sumber penghasilan utamanya.
"Penginnya sih syuting lagi buat cari duit. Sejak selesai film yang itu, saya belum berani syuting lagi karena kondisi fisik, tapi ya kalau tidak syuting tidak ada pemasukan besar," katanya semasa hidup.