Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa SZA memiliki kemampuan bahasa yang sangat baik serta penalaran yang berada pada tingkat superior. Meski demikian, upaya untuk terus menyesuaikan diri di lingkungan sosial disebut membutuhkan energi yang besar dan dapat memicu kecemasan.
SZA kemudian mengaitkan diagnosis tersebut dengan sejumlah hal yang selama ini dia rasakan. Dengan gaya bercanda, dia mengatakan kemampuan mengenali pola (pattern recognition) membuatnya sering merasa ada sesuatu yang 'tidak beres' dan terdorong mencari jawabannya.
Dia juga menyebut diagnosis tersebut menjelaskan mengapa dirinya kerap aktif di kolom komentar media sosial.
Meski menggunakan istilah 'Asperger's' dan 'high-functioning autism' dalam unggahannya, secara medis kedua istilah tersebut sudah tidak lagi menjadi diagnosis resmi. Sejak pembaruan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) pada 2013, seluruh kondisi tersebut diklasifikasikan dalam satu payung diagnosis, yaitu Autism Spectrum Disorder (ASD).
Pengakuan SZA mendapat banyak dukungan dari penggemar di media sosial. Banyak yang mengapresiasi keterbukaan penyanyi peraih Grammy Awards itu karena dinilai dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai autisme pada orang dewasa, terutama perempuan yang kerap baru memperoleh diagnosis setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan berbagai mekanisme adaptasi.