Belakangan, Paola memberikan klarifikasi melalui media sosial. Dia menegaskan bukan dirinya yang mengurus perizinan dan tidak mengetahui secara langsung proses yang dilakukan temannya. Paola juga menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang muncul akibat unggahan tersebut.
"Saya tidak pernah berniat untuk tidak menghormati acara ini," kata Paola dalam video klarifikasinya, dikutip Jumat (19/6/2026).
Di tengah polemik yang berkembang, pria yang menjadi sorotan itu juga menuai kritik setelah memberikan tanggapan terkait busana yang dikenakannya.
Dalam salah satu balasan di media sosial, dia menyatakan bahwa 'pakaian tidak punya jenis kelamin'.
Pernyataan tersebut mendapat respons beragam dari publik. Sebagian menilai hal itu merupakan bentuk ekspresi pribadi, sementara sebagian lainnya menilai persoalan utama terletak pada penghormatan terhadap aturan dalam acara adat yang memiliki tata cara khusus.
Berdasarkan ketentuan yang beredar untuk peserta Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran, laki-laki diwajibkan mengenakan beskap hitam dan kain jarik, sedangkan perempuan mengenakan kebaya hitam lengkap dengan kain batik dan tata rambut sanggul. Aturan tersebut merupakan bagian dari pakem yang selama ini diterapkan dalam prosesi tahunan tersebut.
Hingga Jumat (19/6/2026), polemik mengenai pria berkebaya dalam Kirab Malam 1 Suro masih menjadi perbincangan di media sosial. Perdebatan tidak hanya berkisar pada persoalan busana, tetapi juga menyentuh isu penghormatan terhadap tradisi, aturan adat, dan batas ekspresi individu dalam ruang budaya yang dianggap sakral.