"Dengan kembali, kita menang," kata Rania Miqdad, warga Kota Gaza yang mengungsi bersama keluarganya.
Hal serupa disampaikan warga lainnya, Ismail Abu Mattar. Dia sangat senang bisa pulang ke rumah bersama istri dan keempat anaknya, meski rumahnya telah roboh.
"Tenda di sini lebih baik daripada tenda di sana," ujarnya, merujuk pada kamp pengungsian yang didirikan Israel di Gaza Selatan.
"Kami kira tidak akan kembali, seperti nenek moyang kami," kata Abu Mattar, merujuk pada peristiwa Nakba tahun 1948, di mana kakek dan neneknya terusir dari wilayah yanh kini dicaplok Israel.
Pengungsi lain, Ibrahim Hammad, istri, serta lima anaknya, berjalan kaki selama 5 jam ke tempat tinggal mereka di Kota Gaza. Mereka pulang hanya mendapati rumah telah hancur akibat serangan udara Israel pada Desember 2023.