Sementara itu, kapal kedua, dilaporkan membawa sekitar 280 orang, diyakini tenggelam di lepas pantai Ayeyarwady, pada 8 Juli.
“Meski insiden dan jumlah korban belum dikonfirmasi secara resmi, UNHCR dan IOM sangat prihatin dengan potensi kehilangan nyawa dalam jumlah sangat besar,” bunyi pernyataan, Kamis (16/7/2026), seperti dilaporkan AFP.
Badan-badan PBB tersebut menyoroti, pelayaran tersebut terjadi di luar musim reguler, saat cuaca laut biasanya sangat berbahaya.
“Hujan deras dan banjir di seluruh wilayah tersebut baru-baru ini semakin meningkatkan risiko terkait dengan pergerakan laut semacam itu,” demikian isi pernyataan.
"Jika terverifikasi, tragedi ini akan menambah jumlah hampir 300 orang yang dilaporkan hilang atau telah kehilangan nyawa di Laut Andaman dan Teluk Bengal sepanjang tahun ini, termasuk pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh," kata pernyataan tersebut.
Menurut data UNHCR, hampir 900 pengungsi Rohingya hilang atau tewas di laut Samudera Hindia bagian utara pada 2025 saja. Pada periode itu, lebih dari 6.500 pengungsi berusaha menyeberangi laut berbahaya.