Trump sebelumnya telah mengisyaratkan ingin meredam eskalasi perang dengan Iran menjelang pemilu paruh waktu (midterm) AS pada November mendatang. Trump mengaku lebih memilih jalur diplomasi karena menilai Teheran kini menunjukkan keseriusan untuk kembali berunding mengenai gencatan senjata.
Dia juga menegaskan tidak terburu-buru melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Menurut dia, konflik harus dikelola dengan tepat agar tidak berdampak besar terhadap pemilu paruh waktu yang akan menentukan komposisi DPR dan Senat AS.
"Terlepas dari apa yang disampaikan semua orang tentang pemilu, saya tidak terburu-buru. Kita harus melakukannya dengan benar," kata Trump di Gedung Putih, seperti dikutip dari Anadolu, Sabtu (25/7/2026).
Sementara juru bicara militer Iran mengatakan, serangan dihentikan dilakukan setelah AS lebih dulu menghentikan operasi militernya dalam dua malam terakhir. Selama beberapa hari sebelumnya, Iran melancarkan serangan balasan ke negara-negara di kawasan yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tiga personel militer AS di Yordania dan satu lainnya di Irak.
Seorang pejabat yang terlibat dalam proses mediasi AS-Iran menyebut jeda serangan dari kedua pihak merupakan sinyal positif yang dapat membuka jalan menuju deeskalasi konflik.
Menurut pejabat yang enggan disebutkan namanya itu, baik AS maupun Iran sama-sama ingin kembali menjalankan kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani pada pertengahan Juni lalu. Salah satu kompromi yang sedang dibahas adalah mekanisme pelayaran di Selat Hormuz, dengan Iran tetap mengelola lalu lintas kapal namun menerapkan pembatasan yang lebih longgar.
Meski demikian, isu utama yang seharusnya dibahas dalam masa 60 hari perundingan, terutama mengenai program nuklir Iran, hingga kini masih belum tersentuh. Mediator masih fokus pada upaya menjaga komunikasi antara kedua negara.