Saat ini, AS menghadapi ancaman baru di wilayah tersebut terkait program rudal Iran serta upaya untuk mengganggu, meretas, dan membutakan satelit.
Dalam upacara pelantikan pada awal bulan ini di Al Udeid, 20 prajurit Angkatan Udara AS resmi dinyatakan masuk ke Angkatan Luar Angkasa. Dalam waktu tak lama, beberapa prajurit lain akan bergabung dengan unit operator luar angkasa yang bertugas menjalankan satelit, melacak manuver musuh, serta berupaya menghindari konflik di luar angkasa.
“Misi ini bukan hal baru dan orang-orangnya juga belum tentu baru,” kata Benson, merujuk bahwa jajarannya sudah berpengalaman bertugas di Timur Tengah.
Ancaman dari pesaing global meningkat sejak Perang Teluk pada 1991, saat itu militer AS pertama kali mengandalkan koordinat GPS sebagai informasi untuk memberi tahu posisi pasukan di gurun.
Sementara itu Benson menolak menyebut negara-negara agresif yang akan dipantau oleh para personelnya. Namun keputusan untuk mengerahkan personel Angkatan Luar Angkasa di Al Udeid dibuat berdasarkan perkembangan ketegangan selama beberapa bulan terakhir antara AS dan Iran.