Iran sebelumnya menetapkan enam syarat kepada AS, yakni ganti rugi perang sebesar 300 miliar dolar AS, pencabutan seluruh sanksi, pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade maritim, penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan, serta gencatan senjata komprehensif yang mencakup Lebanon dan Gaza.
Dengan demikian, posisi kedua negara masih berseberangan. AS menginginkan jaminan Selat Hormuz dibuka secara bebas sebagai imbalan penghentian tekanan ekonomi, sementara Iran menuntut konsesi yang jauh lebih luas.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz kini menjadi salah satu kartu tawar paling penting dalam konfrontasi Washington dan Teheran.
Bagi AS, membuka kembali jalur tersebut berarti memastikan kelancaran perdagangan energi global. Bagi Iran, Selat Hormuz menjadi alat untuk menekan Washington agar memenuhi tuntutan politik, ekonomi, dan militernya.