Sebagian besar pengurangan stok sejauh ini berasal dari persediaan komersial. Nasser mengatakan sekitar 6 miliar barel minyak yang masih tersimpan tidak secara praktis dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
“Sistem ini sudah berada di bawah tekanan,” kata dia.
Adapun, perang telah mengganggu secara signifikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur laut strategis yang berada di antara Iran dan Oman tersebut biasanya menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gangguan tersebut kemudian menimbulkan tekanan terhadap perekonomian global. Pernyataan Nasser juga disampaikan beberapa hari setelah negara-negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat.
Kesepakatan tersebut muncul setelah tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Anggota G7 terdiri atas Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Inggris dan AS, sementara Uni Eropa turut berpartisipasi dalam pertemuan kelompok tersebut.
Tekanan di Selat Hormuz juga masih terlihat pada aktivitas pelayaran. Sebuah kapal tanker yang melintas di jalur tersebut pada Senin dihentikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).