Dari Sekutu Jadi Ancaman, Kisah Pahit Imigran Afghanistan yang Berbalik Menyerang AS

Anton Suhartono
Amerika Serikat kembali diguncang tragedi kekerasan, kali ini oleh sosok yang ironisnya pernah menjadi sekutu penting dalam operasi militer (Foto: AP)

Dakwaan Berat Menanti

Rahmanullah menyerang korban dengan pistol revolver Smith & Wesson. Dia akan didakwa dengan tiga tuduhan penyerangan, dan menurut Jaksa Agung Pam Bondi, tuntutan hukuman mati akan diajukan karena salah satu korban akhirnya tewas.

Insiden ini memicu peningkatan keamanan di sekitar Gedung Putih dan menambah kekhawatiran publik bahwa ancaman dapat datang dari individu yang justru pernah menjadi bagian dari jejaring kerja sama militer AS.

Potret Pahit Loyalitas yang Retak

Kisah Rahmanullah mencerminkan paradoks paling pahit dari perang: mereka yang dulu sangat dibutuhkan, sering kali kemudian merasa terlupakan atau tertekan oleh realitas baru. Banyak imigran Afghanistan menghadapi kesulitan adaptasi, birokrasi panjang, dan beban psikologis yang berat setelah relokasi.

Namun kasusnya kini menjadi peringatan keras bahwa risiko tersebut bisa berkembang menjadi ancaman serius jika tidak terdeteksi sejak dini.

Tragedi Ini Tinggalkan Pertanyaan Besar

Serangan dekat Gedung Putih ini meninggalkan sederet pertanyaan yang belum terjawab:

  • Apakah Rahmanullah bertindak sendiri atau dipengaruhi jaringan tertentu?
  • Apakah ada sinyal bahaya yang dilewatkan selama proses pemberian suaka?
  • Seberapa siap AS menangani para mantan mitra yang membawa trauma konfliknya?

Selagi FBI melanjutkan penyelidikan menyeluruh, publik Amerika kini berhadapan dengan kenyataan pahit: tidak semua sekutu di medan perang akan tetap menjadi sekutu di tanah baru.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa perang tidak hanya meninggalkan luka di negara konflik, tetapi juga dapat memunculkan ancaman baru jauh setelah senjata diredam.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Internasional
18 jam lalu

Abaikan Trump, Para Pejabat Israel Serukan Pendudukan Gaza secara Permanen

Internasional
19 jam lalu

Nah, Mantan Presiden Rusia Klaim Warga Greenland Ingin Bergabung dengan Negaranya

Internasional
20 jam lalu

Bela Iran, Rusia Kutuk Intervensi Amerika Cs terkait Demonstrasi Berdarah

Internasional
21 jam lalu

Greenland Tegaskan Tak Rela Dicaplok AS Apa pun Alasannya

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal