“Pada 2019, dia dirawat di tempat penampungan kami. Dia sudah tua dan sangat lemah, lagi sakit. Tapi dia perlahan pulih dan mulai menceritakan kisah hidupnya. Saat mendapatkan alamatnya di Kollam, kami terkejut begitu mengetahui bahwa ibunya, Fathima Beevi, berumur 91 tahun, ada di sana bersama adik-adiknya,” kata Philip.
Saat dihubungi para aktivis sosial lewat telepon di Malayalam, ibu Thangal menangis haru saat mendengar kabar putranya masih hidup.
“Selama bertahun-tahun kami selalu berharap dia masih hidup. Ayahnya, Yunus Kunju, yang meninggal pada 2012, banyak membantu orang di Kerala; jadi kami berdoa semoga perbuatan baiknya akan membantu kami menemukan putra kami yang hilang,” tutur sang ibu.
Thangal memiliki tiga adik laki-laki dan empat adik perempuan. Keluarganya sebelumnya telah memeriksa apakah namanya ada dalam daftar korban kecelakaan pesawat 1976. Ketika mereka tidak dapat menemukannya, keluarganya berharap suatu hari nanti Thangal akan menghubungi mereka.
Di tempat penampungan SEAL, Thangal mengatakan, saat hijrah ke UEA pada 1971 dia sempat bekerja sebagai penjaga toko dan melakukan beberapa pekerjaan lain. Kakek itu lalu mulai mengorganisasi acara budaya India.
“Setelah kecelakaan itu, saya mendapat kejutan besar. Saya takut akan ada penyelidikan terhadap saya karena saya telah selamat. Saya tidak mendapatkan banyak uang di UEA, jadi saya tidak ingin kembali ke keluarga saya dalam keadaan yang menyedihkan,” katanya.