Pejabat senior lain menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak perang yakni kekurangan amunisi dan risiko terhadap personel militer.
Namun Trump dilaporkan mengabaikan kekhawatiran-kekhawariran tersebut, dengan mengatakan militer bisa mengatasi masalah apa pun yang muncul.
WSJ menyebutkan, Trump awalnya merasa puas dengan dimulainya perang, bahkan "membusungkan dada" di sebuah acara penggalangan dana Partai Republik di Mar-a-Lago saat diberi tahu tentang tewasnya Khamenei.
Namun, setelah itu tekanan datang silih berganti, dipicu mandeknya kemajuan yang dicapai serta gencarnya perlawanan yang diberikan Iran.
Selain itu, seiring melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), para pemimpin negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Qatar, mendesak Gedung Putih untuk mencari solusi diplomatik.
Jajak pendapat di AS sebelumnya menunjukkan, hampir 80 persen warga mendukung kesepakatan untuk mengakhiri perang. Kondisi itu tampaknya mendorong Trump untuk mengupayakan gencatan senjata sementara pada Juni.
Beberapa anggota Partai Republik juga memperingatkan Trump mengenai potensi dampak perang berkepanjangan terhadap peluang kemenangan politisi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu pada November.