Serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania dilakukan sebagai pembalasan atas serangan militer AS terhadap Pulau Larak di Selat Hormuz beberapa jam sebelumnya. Aksi saling serang tersebut kembali memperlihatkan pentingnya kemampuan pertahanan udara dalam menghadapi serangan rudal balistik.
Namun, strategi Iran tampaknya tidak hanya bertujuan menghancurkan target militer AS. Teheran diduga juga berupaya menguras persediaan rudal pertahanan udara lawannya.
Dengan memaksa AS menggunakan beberapa rudal pencegat untuk menghadapi satu rudal balistik, Iran dapat memberikan tekanan terhadap stok amunisi pertahanan AS meskipun rudal penyerangnya berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius karena AS telah menghabiskan banyak rudal pencegat sejak awal perang. Selama lima hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari, AS dilaporkan menembakkan lebih dari 800 rudal pencegat untuk menangkis serangan balasan Iran.
Pada Juli, muncul laporan bahwa persediaan rudal pencegat AS telah berkurang drastis hingga sekitar 25 persen dari level yang dianggap penting oleh Departemen Pertahanan AS atau Pentagon.