McNally menilai perbedaan sikap antara Washington dan Teheran menjadi salah satu faktor yang dapat memicu eskalasi. Presiden AS Donald Trump disebut bertekad mencegah Iran memiliki senjata nuklir, sedangkan pemerintah Iran dinilai belum bersedia melepaskan kemampuan nuklirnya.
“Presiden Donald Trump bertekad, sebagai bagian dari warisannya, hampir dengan segala cara, untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan membuat mereka melepaskan kemampuan nuklirnya,” kata McNally dilansir dari CNBC.
“Di sisi lain, rezim Iran tidak bersedia melakukannya. Selama perbedaan mendasar dalam ruang negosiasi tersebut belum teratasi, dinamika eskalasi akan tetap berlangsung,” tuturnya.
Kekhawatiran pasar juga muncul setelah Iran melaporkan tiga serangan tambahan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz pada Kamis. Menurut data UK Maritime Trade Operations (UKMTO), serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut masih berlangsung dengan frekuensi mendekati rekor tertinggi.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan ini berpotensi menghambat distribusi minyak dari Timur Tengah.
Di tengah meningkatnya risiko keamanan, peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi juga masih terbuka. Reuters melaporkan Iran telah mengirimkan proposal terkait program nuklir kepada Washington melalui Qatar, mengutip seorang pejabat senior Iran.
Perkembangan tersebut memberikan harapan bagi pasar bahwa ketegangan kedua negara masih dapat diredakan melalui perundingan.