“Saya curiga, begitu (penelitian) ini dilakukan, sepertinya bagian populasi yang tidak rentan efektif (terjangkit Covid-19) adalah sekitar 80 persen. Saya pikir itulah yang akan terjadi,” katanya kepada Freddie Sayers dari laman berita UnHerd, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Jumat (5/6/2020) dan dilansir Alarabiyah.
Sebagai seorang pakar ilmu saraf yang terkenal karena menemukan teknik pencitraan otak “pemetaan parametrik statistik”, Friston bukanlah ahli epidemiologi ataupun spesialis penyakit. Sebaliknya, dia mendasarkan klaimnya pada penerapan analisis pemodelan untuk data Covid-19.
Friston sama sekali tidak mengklaim telah menemukan antibodi sebenarnya yang dapat membuat orang kebal terhadap virus corona. Dia hanya ingin mengatakan, data yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa sejumlah besar orang memiliki semacam “materi gelap imunologis”, yakni suatu bentuk resistensi terhadap infeksi yang belum diidentifikasi.
Sebagaimana dicatat oleh UnHerd, ini tidak berarti bahwa bagian penduduk dunia yang tidak rentan Covid-19 secara teknis kebal terhadap virus itu. Tetapi sebaliknya, mereka tidak mungkin tertular dalam keadaan normal. Mereka akan mungkin tertular pada kondisi yang tak biasa, misalnya ketika terkena atau terpapar viral load yang tinggi di rumah sakit.
Dampak terhadap kebijakan pemerintah
Klaim Friston tersebut sudah barang tentu memiliki implikasi luas bagi pemerintah ketika mereka berusaha untuk menangani pandemi virus corona. Menurut model Friston, kebijakan pemerintah bukanlah penjelasan utama atas berbagai tingkat kematian dari satu ke lain negara. Sebaliknya, dia berpendapat bahwa persentase populasi yang rentan terhadap Covid-19 memiliki pengaruh paling kuat terhadap tingkat kematian suatu negara.