Imigran Afghan Pelaku Penembakan Tentara Garda Nasional AS Mantan Pekerja CIA, Apa Motifnya? 

Anton Suhartono
Penembakan dua tentara Garda Nasional di dekat Gedung Putih mengguncang AS (Foto: AP)

WASHINGTON, iNews.id - Penembakan terhadap dua tentara Garda Nasional di dekat Gedung Putih mengguncang Amerika Serikat (AS). Bukan hanya karena lokasinya di ring 1 kekuasaan, tapi juga pelakunya, Rahmanullah Lakanwal (29), imigran Afghanistan pernah bekerja untuk pasukan elite AS dan badan intelijen CIA.

Kejadian ini memicu pertanyaan besar tentang keamanan nasional dan proses pemeriksaan latar belakang agen asing.

Serangan yang terjadi Rabu (26/11/2025) itu menewaskan satu personel Garda Nasional, sementara satu lainnya kritis. Insiden berlangsung hanya beberapa blok dari Gedung Putih, memaksa peningkatan keamanan di pusat pemerintahan AS.

Dari Mitra CIA Menjadi Ancaman

Fakta bahwa pelaku adalah seseorang yang pernah bekerja sama dengan lembaga intelijen paling kuat di dunia membuat kasus ini semakin kompleks. Selama bertahun-tahun, CIA dan pasukan elite AS mempekerjakan warga Afghanistan sebagai penerjemah, pemandu, dan mitra operasi selama perang melawan Taliban.

Namun berbaliknya peran Rahmanullah, dari sekutu menjadi pelaku serangan, menimbulkan pertanyaan, apa yang membuat seseorang yang pernah dipercaya mengawal misi sensitif, kini mengangkat senjata melawan tentara AS?

Hingga kini motif Rahmanullah masih gelap. 

“Siapa yang tahu apa motifnya, tapi apa yang dia lakukan sungguh mengerikan,” kata Presiden Donald Trump, dalam percakapan telepon Thanksgiving dengan personel militer, Jumat (28/11/2025).

Trump bahkan menyebut insiden tersebut sebagai ancaman terorisme.

Celakanya Pemeriksaan Latar Belakang?

Rahmanullah pindah ke AS pada September 2021, tahun penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Stasiun televisi NBC melaporkan, dia baru menerima status suaka pada awal 2025. 

Fakta ini mendorong banyak pihak mempertanyakan bagaimana pemeriksaan latar belakang (vetting) dilakukan, terutama bagi mereka yang pernah bekerja untuk lembaga sensitif seperti CIA.

Apakah ada tanda-tanda bahaya yang terlewat? Ataukah dia membawa trauma pascaperang yang tidak pernah ditangani?

Jaksa Agung AS Pam Bondi menegaskan pelaku akan dituntut hukuman mati jika dakwaan pembunuhan terbukti. Saat ini Rahmanullah menghadapi tiga tuduhan penyerangan setelah menyerang korban dengan revolver Smith & Wesson.

Editor : Anton Suhartono
Artikel Terkait
Internasional
16 jam lalu

Begini Wujud Autopen, Alat Peniru Tanda Tangan yang Dipermasalahkan Trump kepada Joe Biden

Internasional
19 jam lalu

Mengenal Autopen, Alat Pembuat Tanda Tangan yang Jadi Senjata Trump Serang Joe Biden

Internasional
20 jam lalu

Cabut Instruksi Presiden Era Joe Biden, Trump Sebut AS Dikendalikan Kelompok Kiri

Internasional
21 jam lalu

Wah, Trump Batalkan Seluruh Instruksi Presiden Era Joe Biden yang Diteken Pakai Autopen

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal