MANILA, iNews.id - Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjadi sorotan aktivis hak asasi manusia (HAM) internasional terkait upayanya melawan peredaran narkoba. Sejak dia menjadi presiden pada tahun lalu, hampir 4.000 orang tewas dalam operasi narkoba.
Dia berdalih bahwa orang-orang yang terbunuh itu benar-benar tersangkut dengan kasus narkoba dan mendapat hukuman setimpal.
"Saya sadar bahwa saya sudah dikutuk. Tapi cap melakukan perbuatan di luar hukum yang ditujukan ke saya itu tidak benar. Saya tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah memerintahkan setiap polisi di negara ini untuk mengatakan, bunuh saja mereka tanpa alasan," ucapnya, belum lama ini.
Beberapa organisasi HAM yang mengkritik cara ekstrem Duterte itu adalah Amnesty International, Human Right Watch (HRW), dan Uni Eropa.
Duterte dikenal sangai membenci bandar narkoba atau orang yang berkaitan dengan bisnis obat terlarang itu. Sejak kampanye pilpres tahun lalu, dia berkali-kali menyampaikan pernyataan kontroversial yakni akan membunuh pelaku narkoba.