Intelijen: Ancaman Terbesar Jelang Pilpres AS Adalah Rusia Bukan China

Arif Budiwinarto
Dalam debat terakhir Capres Amerika Serikat 2020 pada 22 Oktober lalu, Donald Trump menyebut tidak ada seorang pun yang lebih keras terhadap Rusia selain dirinya. (foto: AFP)

Namun, pandangan mengenai potensi intervensi China dalam Pilpres AS 2020 nampaknya mulai bergeser. Ini disebabkan temuan intelijen yang menunjukkan keterlibatan peretas dukungan Rusia menargetkan pemerintah negara bagian dan berhasil mencuri data dalam dua kasus.

Tuduhan itu muncul tak lama setelah para pejabat menuding Rusia dan Iran menggunakan informasi pendaftaran pemilih AS untuk merusak kampanye Trump.

Sedangkan, tuduhan China akan ikut campur sepanjang masa kampanye sampai mendakati hari pemilihan sama sekali tidak menunjukkan aktivitas yang signifikan.

Upaya misinformasi asing yang didukung China diklaim memiliki jangkauan sangat kecil dibandingkan upaya Rusia sebelum pemilihan Presiden AS pada 2016 lalu.

"China mempelajari apa yang dilakukan Rusia pada 2016 dengan sangat cermat," kata Pakar Keamanan Siber, James Lewis, dikutip dari CNN, Sabt (24/10/2020).

"Mereka ingin bisa melakukan apa yang dilakukan orang-orang Rusia tetapi mereka tidak begitu pandai dalam hal itu," lanjutnya.

Operasi China diyakini lebih produktif di masa depan

Editor : Arif Budiwinarto
Artikel Terkait
Internasional
6 jam lalu

Iran Siapkan Daftar Target Serangan terhadap AS jika Gencatan Senjata Runtuh, Apa Saja?

Nasional
16 jam lalu

ESDM: Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia Bukan Cuma untuk BBM, Industri Kebagian

Internasional
18 jam lalu

Trump Klaim Iran Tak Akan Bisa Bikin Senjata Nuklir dalam 20 Tahun

Internasional
18 jam lalu

Dikritik Pangeran Harry soal Perang Ukraina, Trump: Dia Tak Mewakili Inggris

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news