"Kecelakaan sepertinya disebabkan karena pilot mengalami spatial disorientation, bukan masalah teknis dengan pesawat," bunyi pernyataan kementerian, dikutip dari AFP, Selasa (11/6/2019).
Kementerian juga akan mengoperasikan kembali seluruh jet tempur F-35A yang sempat dikandangkan setelah insiden ini. Namun sebelumnya para pilot akan mendapat pelatihan seputar bahayanya spatial disorientation serta bagaimana cara menghindarinya di mesin simulasi.
Insiden ini merupakan kecelakaan jet tempur F-35A pertama. Amerika Serikat pun turut memberi perhatian untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat. Apalagi ada kekhawatiran Rusia dan China ikut memburu bangkai pesawat secara diam-diam untuk membongkar teknologi di dalamnya.
Pekan lalu, kementerian pertahanan menghentikan pencarian sebagian bangkai jet tempur. Beberapa bagian jasad pilot serta puing ditemukan, termasuk bagian ekor. Meski demikian alat perekam data penerbangan belum ditemukan.